pulang
Bulan tidak perak. Kali ini warnanya kuning gelap, sedikit pudar dengan bopeng kehitaman yang menjadikannya kurang cantik. Tapi lingkarnya sempurna dan besar. Ia seolah datar, tersangkut begitu saja seperti layangan putus di tepi siluet bukit—setunjukan jauhnya—di sana.
Ke sana kamu akan pergi? Kamu mengangkat bahu sekali. Tak tahu. Tak pasti. Yang pasti hanyalah: kamu ingin pergi. Bukan karena tak mencintaiku lagi, tapi karena cintaku membebanimu. Begitu berat, hingga kamu tak bisa bergerak. Penuh, seperti orang kekenyangan. Satu-satunya cara yang bisa kamu pikirkan adalah berhenti mengkonsumsi cintaku. Satu-satunya cara yang kamu tahu adalah: pergi.
Aku menatap matamu. Sesuatu yang tajam pasti telah menusuk ulu hatiku, membuatnya ngilu bukan main, membuat mataku seketika berair. Mungkin karena aku tak bisa berhenti. Seperti mata air, aku akan luap jika tak mengalir. Tapi memintamu tinggal juga tak mungkin—aku terlalu mencintaimu—meski tetap tak mengerti mengapa hal itu bisa jadi beban. Dan kamu telah bicara jujur.
Maka, bisikku: pergilah. Kamu terkejut. Mungkin menyangka aku akan menahanmu. Bibirmu sedikit bergetar. Susah payah kamu menahannya. “Sungguh?” Kamu masih tak percaya. Aku mengangguk. “Kenapa?” Berdirimu tiba-tiba limbung. Kamu berpindah dari satu kaki ke kaki lain. Niatmu yang semula bulat, kini seperti limau terpotong yang disangkutkan ke bibir gelas es tehmu—menggantung tak jelas. Hampir lepas.
Kebebasan ini seketika menjadi menakutkan. Hidupmu tiba-tiba akan jadi balon udara tanpa kantong pasir dan jangkar. Hidupku tiba-tiba akan jadi balon kempes, tanpa udara yang bisa melambungkannya.Tapi aku tak penting. Kamulah yang penting dalam hidupku. Aku diam. Kamu diam. Aku tahu, kamu ingin pergi. Maka aku mengangguk lagi. Meski tak begitu mantap.
Karena, jawabku, jika kamu tak pergi, bagaimana kamu akan tahu jalan pulang?
-Arvianti Armand-
Ke sana kamu akan pergi? Kamu mengangkat bahu sekali. Tak tahu. Tak pasti. Yang pasti hanyalah: kamu ingin pergi. Bukan karena tak mencintaiku lagi, tapi karena cintaku membebanimu. Begitu berat, hingga kamu tak bisa bergerak. Penuh, seperti orang kekenyangan. Satu-satunya cara yang bisa kamu pikirkan adalah berhenti mengkonsumsi cintaku. Satu-satunya cara yang kamu tahu adalah: pergi.
Aku menatap matamu. Sesuatu yang tajam pasti telah menusuk ulu hatiku, membuatnya ngilu bukan main, membuat mataku seketika berair. Mungkin karena aku tak bisa berhenti. Seperti mata air, aku akan luap jika tak mengalir. Tapi memintamu tinggal juga tak mungkin—aku terlalu mencintaimu—meski tetap tak mengerti mengapa hal itu bisa jadi beban. Dan kamu telah bicara jujur.
Maka, bisikku: pergilah. Kamu terkejut. Mungkin menyangka aku akan menahanmu. Bibirmu sedikit bergetar. Susah payah kamu menahannya. “Sungguh?” Kamu masih tak percaya. Aku mengangguk. “Kenapa?” Berdirimu tiba-tiba limbung. Kamu berpindah dari satu kaki ke kaki lain. Niatmu yang semula bulat, kini seperti limau terpotong yang disangkutkan ke bibir gelas es tehmu—menggantung tak jelas. Hampir lepas.
Kebebasan ini seketika menjadi menakutkan. Hidupmu tiba-tiba akan jadi balon udara tanpa kantong pasir dan jangkar. Hidupku tiba-tiba akan jadi balon kempes, tanpa udara yang bisa melambungkannya.Tapi aku tak penting. Kamulah yang penting dalam hidupku. Aku diam. Kamu diam. Aku tahu, kamu ingin pergi. Maka aku mengangguk lagi. Meski tak begitu mantap.
Karena, jawabku, jika kamu tak pergi, bagaimana kamu akan tahu jalan pulang?
-Arvianti Armand-
Komentar
Posting Komentar