Aku melewati jalanan beraspal itu pelan-pelan. Takut kesandung. Jalanan itu sudah tak sebagus 7-8 tahunan yang lalu. 13 tahun sudah aku selalu melewati jalanan ini. Aku jadi saksi hidup ketika jalan ini masih berpasir, becek, makadam, berkerikil, jadi halus, sampai sekarang sudah cuil-cuil lagi. Pun sejak daerah kanan-kirinya masih kebun bambu yang -menurut mata kecilku- sangat menyeramkan hingga sudah berupa rumah-rumah dengan warna kuning pucat atau coklat muda atau abu-abu samar khas rumah favorit masa kini. Semakin tahun, semakin jarang aku melewatinya. Paling-paling setahun sekali. Berangkat tarwih ke masjid dan sungkem ke rumah Mbah. Sehingga jalan ini pun jadi saksi perjalanan Ramadhanku. Mungkin dia tahu, kalau dulu sekali, aku rajin tadarus selepas subuh. Pernah aku rajin shalat fardlu ke masjid demi bertemu anak Pak Takmir yang ganteng dan pinter ngaji. Dia juga tentu tahu, dulu aku sangat senang membeli sosis dan pentol Cak Duan pasca tarwih, sambil berlarian atau curhat pada sahabatku tentang cinta monyetku masa itu. Ah, rindu. Betapa waktu sangat cepat berlalu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

pulang