Ibuku tak lagi muda.
Kakinya sudah tak sekuat dulu. Tak sekuat ketika aku selalu bangga karena ibuku adalah guru kesukaan murid-muridnya yang selalu rajin inclag-inclig dan mengikuti seluruh kegiatan. Sekarang, bahkan untuk mengerjakan pekerjaan rumah sebentar saja, sudah harus dibalsem kakinya. Tapi aku tak pernah mengurangi rasa bangga padanya. Semua sama. Selalu tetap sama.
Ibuku tak lagi muda
Staminanya sudah tak sekuat dulu. Tak sekuat ketika pulang mengajar beliau masih bisa bermain denganku. Masih bisa menemaniku belajar membaca. Masih bisa mempermudah hafalan biologiku lewat singkatan-singkatan yang menyenangkan. Masih bisa melatih aku dan teman-teman pramukaku bagaimana mendirikan tenda dan jembatan-jembatan dari tongkat panjang. Masih bisa jadi pembina OSIS. Masih bisa ngrangkep-ngrangkep jadi Bu RT, jadi pembina pramuka, kemahasiswaan SMP, guru IPS, guru Seni Budaya, sekaligus chef terbaik di dunia. Sekarang, ibu lebih banyak tidur. Capek, katanya. Untunglah dzikir dan ibadahnya juga semakin banyak.
Ibuku tak lagi muda
Emosinya sudah tak sestabil dulu. Tak seperti ketika beliau selalu jadi tempat curhat murid-muridnya. Masih sabar menghadapiku yang bermain hingga larut dan kebanyakan tidur. Selalu sabar ketika masaknya tidak enak. Selalu sabar menghadapi ketiga anaknya yang manja. Sekarang, makin sensitif. Makin mudah sedih. Makin mudah ngeyel. Makin mudah marah. Makin mudah nggondok. Makin moody kalau hasil masakannya tak enak. Tapi, ibuku terlihat makin pasrah. Makin berusaha meredam nafsu untuk bergunjing. Meredam nafsu untuk bernyanyi. Sekarang favoritnya qasidah. Alhamdulillah.
Ibuku tak lagi muda.
Aku ingin membahagiakannya. Meski hanya dengan membantu mencuci piring menyapu lantai, melipat baju, membantu memasak, mengelap kaca, menemaninya motoran keliling kota. Paling tidak, beliau masih bisa menikmati masa tuanya. Masih ingat kalau beliau punya teman cerita. Ingat kalau beliau punya anak yang insha Allah siap siaga.
Ibuku tak lagi muda
Panjang umur ya buk, sehat ya buk. Aku bukannya takut menjadi dewasa, aku hanya tak suka ibuku menua
Kakinya sudah tak sekuat dulu. Tak sekuat ketika aku selalu bangga karena ibuku adalah guru kesukaan murid-muridnya yang selalu rajin inclag-inclig dan mengikuti seluruh kegiatan. Sekarang, bahkan untuk mengerjakan pekerjaan rumah sebentar saja, sudah harus dibalsem kakinya. Tapi aku tak pernah mengurangi rasa bangga padanya. Semua sama. Selalu tetap sama.
Ibuku tak lagi muda
Staminanya sudah tak sekuat dulu. Tak sekuat ketika pulang mengajar beliau masih bisa bermain denganku. Masih bisa menemaniku belajar membaca. Masih bisa mempermudah hafalan biologiku lewat singkatan-singkatan yang menyenangkan. Masih bisa melatih aku dan teman-teman pramukaku bagaimana mendirikan tenda dan jembatan-jembatan dari tongkat panjang. Masih bisa jadi pembina OSIS. Masih bisa ngrangkep-ngrangkep jadi Bu RT, jadi pembina pramuka, kemahasiswaan SMP, guru IPS, guru Seni Budaya, sekaligus chef terbaik di dunia. Sekarang, ibu lebih banyak tidur. Capek, katanya. Untunglah dzikir dan ibadahnya juga semakin banyak.
Ibuku tak lagi muda
Emosinya sudah tak sestabil dulu. Tak seperti ketika beliau selalu jadi tempat curhat murid-muridnya. Masih sabar menghadapiku yang bermain hingga larut dan kebanyakan tidur. Selalu sabar ketika masaknya tidak enak. Selalu sabar menghadapi ketiga anaknya yang manja. Sekarang, makin sensitif. Makin mudah sedih. Makin mudah ngeyel. Makin mudah marah. Makin mudah nggondok. Makin moody kalau hasil masakannya tak enak. Tapi, ibuku terlihat makin pasrah. Makin berusaha meredam nafsu untuk bergunjing. Meredam nafsu untuk bernyanyi. Sekarang favoritnya qasidah. Alhamdulillah.
Ibuku tak lagi muda.
Aku ingin membahagiakannya. Meski hanya dengan membantu mencuci piring menyapu lantai, melipat baju, membantu memasak, mengelap kaca, menemaninya motoran keliling kota. Paling tidak, beliau masih bisa menikmati masa tuanya. Masih ingat kalau beliau punya teman cerita. Ingat kalau beliau punya anak yang insha Allah siap siaga.
Ibuku tak lagi muda
Panjang umur ya buk, sehat ya buk. Aku bukannya takut menjadi dewasa, aku hanya tak suka ibuku menua
Komentar
Posting Komentar